Mengusap Khuf

Mengusap Khuf


Kami susulkan pembahasan mengusap khuf ini setelah menjelaskan tentang tata cara dan ketentuan wudhu yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mengusap khuf berkaitan dengan salah satu anggota wudhu yaitu kaki.


Pengertian Khuf

Khuf adalah sesuatu yang dikenakan pada kaki, yang terbuat dari kulit atau selainnya.[1] (al-Mas-hu ‘alal Khuffaini, bab “Fatawa fil Mas-hi alal Khuffaini”; asy-Syarhul Mumti’, 1/182)

Dasar Hukum Mengusap Khuf

Bila seseorang yang berwudhu dalam keadaan mengenakan khuf, maka ia tidak perlu membuka khufnya untuk mencuci kaki namun cukup sebagai gantinya mengusap di atas khufnya.

Demikian as-Sunnah menerangkan dalam permasalahan ini. Ulama Ahlus Sunnah sepakat tentang pensyariatan mengusap khuf, menyelisihi kelompok Syi’ah Rafidhah yang menyempal dari jalan yang haq.

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Pengingkaran kelompok Syi’ah Rafidhah terhadap sunnah ini merupakan syi’ar (tanda) mereka.” (asy-Syarhul Mumti’, 1/182)

Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullah berkata, “Telah masyhur di kalangan ulama syariat tentang kebolehan mengusap khuf, sampai-sampai perkara ini terhitung sebagai syi’ar Ahlus Sunnah dan pengingkaran terhadap hal ini teranggap sebagai syi’ar ahlul bid’ah.” (Ihkamul Ahkam, 1/114)

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata, “Tidaklah didapati pengingkaran dalam masalah mengusap khuf ini kecuali dari orang yang bodoh dan dari kalangan ahlul bid’ah yang keluar dari jamaah kaum muslimin (kalangan fuqaha dan ahli atsar).” (at-Tamhid, 11/134)

Dalil tentang mengusap khuf dalam al-Qur’an adalah firman Allahsubhanahu wa ta’ala,
وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِۚ
“Usaplah kepala-kepala kalian dan kaki-kaki kalian sampai mata kaki.”(al-Maidah: 6)

Dengan mengkasrah huruf lam pada bacaan[2] وَأَرۡجُلَكُمۡ (mengusap kaki-kaki kalian) mengikuti lafadz بِرُءُوسِكُمۡ (mengusap kepala-kepala kalian) sehingga kaki diusap sama halnya dengan kepala. Namun yang diusap di sini bukanlah kaki telanjang tetapi kaki yang mengenakan khuf sebagaimana dijelaskan dalam Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang hadits-hadits dari beliau tentang mengusap khuf mencapai derajat mutawatir. (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 6/62—63, Fathul Bari, 1/618)

Di antara hadits-hadits yang menyebutkan tentang mengusap khuf adalah sebagai berikut. Al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhuberkata,

كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ فِي سَفَرٍ، فَأَهْوَيْتُ لِأَنْزِعَ خُفَّيْهِ. فَقَالَ: دَعْهُمَا، فَإِنِّي أَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ؛ فَمَسَحَ عَلَيْهِمَا.
Aku pernah menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu safar, (tatkala beliau berwudhu) aku pun menjulurkan tanganku untuk melepas dua khuf yang sedang beliau kenakan. Namun beliau berkata, “Biarkan dua khuf ini (jangan dilepas) karena aku memasukkan keduanya[3] dalam keadaan suci.” Beliau pun mengusap di atas kedua khuf tersebut.” (HR. al-Bukhari no. 206 dan Muslim no. 274)

Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu ‘anhu menuturkan pengalamannya bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ فَانْتَهَى إِلَى سُبَاطَةِ قَوْمٍ، فَبَالَ قَائِمًا، فَتَنَحَيْتُ، فَقَالَ : اُدْنُه. فَدَنَوْتُ حَتَّى قُمْتُ عِنْدَ عَقْبَيْهِ، فَتَوَضَّأَ،فَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ.
Aku pernah berjalan menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau berhenti di tempat pembuangan sampah suatu kaum dan kencing di situ dalam keadaan berdiri. Aku pun menyingkir dari beliau, namun beliau berkata, “Mendekatlah!”[4] Aku pun mendekat hingga aku berdiri di sisi kedua tumit beliau. Kemudian beliau berwudhu dan mengusap di atas dua khufnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim no. 273)

Sa’d bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap di atas dua khufnya (ketika berwudhu). Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma menanyakan hal ini kepada ayahnya, ‘Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu, ‘Umar pun menjawab, “Iya, Nabi mengusap di atas dua khufnya. Apabila Sa’d telah menceritakan kepadamu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jangan engkau pertanyakan kepada selainnya.”(HR. al-Bukhari no. 202)

Hammam berkata bahwa Jarir radhiallahu ‘anhu kencing, kemudian ia berwudhu dan mengusap di atas dua khufnya. Ada seseorang yang bertanya kepadanya, “Engkau melakukan hal ini?” Jarir menjawab,
نَعَمْ. رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ بَالَ، ثُمَّ تَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ
“Iya, aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kencing, kemudian berwudhu dan mengusap di atas dua khufnya.” (HR. al-Bukhari no. 387 dan Muslim no. 272)

Adapun anggapan bahwa hadits-hadits tentang pengusapan khuf itu hukumnya terhapus (mansukh) dengan perintah mencuci kedua kaki dalam surat al-Maidah ayat 6, tidaklah benar. Anggapan itu terbantah oleh hadits Jarir radhiallahu ‘anhu yang telah kita bawakan di atas, karena keislaman beliau setelah turunnya surat al-Maidah.

Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah berkata, “Hadits Jarir radhiallahu ‘anhuini mengagumkan mereka, karena Jarir masuk Islam setelah turunnya surat al-Maidah.”

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Seandainya Islamnya Jarir lebih dahulu sebelum turunnya ayat dalam surat al-Maidah, maka dimungkinkan haditsnya dalam masalah mengusap khuf mansukh dengan ayat ini. Namun ternyata Jarir masuk Islam setelah turunnya ayat ini, maka jelas bagi kita bahwa hadits ini tetap diamalkan. Sementara itu, yang diinginkan oleh surat al-Maidah berlaku bagi selain pemakai khuf (adapun yang memakai khuf tidak perlu ia mencuci kakinya namun cukup mengusap di atas dua khufnya). Dengan demikian, as-Sunnah yang ada di sini menjadi pengkhusus bagi ayat al-Qur’an, wallahu a’lam.” (SyarahShahih Muslim, 3/164—165)

Al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah berkata, “Hadits Jarir radhiallahu ‘anhuini adalah hadits yang mufassar (yang memberi penjelasan), karena ada sebagian orang yang mengingkari pengusapan khuf ini dengan menakwil bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap khufnya sebelum turunnya surat al-Maidah, sedangkan Jarir radhiallahu ‘anhu dalam haditsnya menyebutkan bahwa ia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap khufnya setelah turunnya surat al-Maidah.” (Sunan at-Tirmidzi, 1/64)

Di samping itu, yang juga menerangkan tidak benarnya anggapan mansukh-nya hadits tentang mengusap khuf adalah kisah al-Mughirah bin Syu’bah yang membawakan air untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang buang hajat. Setelah selesai dari buang hajat, al-Mughirah menuangkan air untuk beliau hingga beliau berwudhu dan mengusap di atas kedua khufnya. (HR. al-Bukhari no. 203)

Kisah ini terjadi dalam Perang Tabuk, sementara ayat wudhu dalam surat al-Maidah turun dalam Perang al-Muraisi’. Perang Tabuk sendiri terjadi setelah Perang al-Muraisi’. (Fathul Bari,1/385, Subulus Salam, 1/89, NailulAuthar, 1/256)

Kesepakatan Umat tentang Pengusapan Khuf & Mutawatirnya Masalah Ini

Ibnul Mubarak rahimahullah berkata,“Tidak didapati perselisihan pendapat di kalangan sahabat tentang mengusap di atas khuf. Adapun setiap sahabat yang didapatkan padanya pengingkaran terhadap masalah ini, maka didapati pula periwayatan yang menetapkan mengusap khuf ini darinya.” (al-Ausath, 1/434)

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Tiga puluh tujuh sahabat Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan tentang mengusap khuf dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Musnad al-Imam Ahmad, 4/363)

Ibnul Mundzir rahimahullah meriwayatkan dari al-Hasan al-Bashrirahimahullah, ia berkata, “Tujuh puluh orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bercerita kepadaku bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap di atas kedua khuf yang dikenakannya.” (al-Ausath, 1/433) Ibnul Mundzir rahimahullah menyebutkan, di antara para sahabat itu adalah Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin ‘Abbas, ‘Amr bin al-’Ash, Abu Umamah al-Bahili, Qais bin Sa’d, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin al-Harits, Abu Sa’id al-Khudri, ‘Ammar bin Yasir, Abu Zaid al-Anshari, Jarir bin Abdillah, Jarir bin Samurah, Abu Mas’ud al-Anshari, al-Barra bin ‘Azib, serta diriwayatkan pula dari Ma’qil bin Yasar, Kharijah bin Hudzafah, Abdullah bin ‘Amr, dan Bilal radhiallahu ‘anhum. (al-Ausath, 1/427—429)

Demikian pula al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah menyebutkan dalam Sunan-nya (1/63) dua puluh orang sahabat, yaitu ‘Umar, ‘Ali, Hudzaifah, al-Mughirah, Bilal, Sa’d, Abu Ayyub, Salman, Buraidah, ‘Amr bin Umayyah, Anas, Sahl bin Sa’a, Ya’la bin Murrah, ‘Ubadah bin ash-Shamit, Usamah bin Syarik, Jabir, Usamah bin Zaid, Ibnu ‘Ubadah, atau Ibnu Imarah dan Ubay bin Imarah radhiallahu ‘anhum.

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menukilkan kesepakatan ulama dalam masalah pengusapan khuf. (Syarah Shahih Muslim lin Nawawi, 3/164)


Syarat Mengusap Khuf

Syarat dibolehkannya mengusap khuf adalah ketika orang tersebut mengenakan khuf dalam keadaan suci (telah berwudhu) dengan sempurna termasuk mencuci kedua kakinya (Ihkamul Ahkam, 1/115), tidak hanya sekadar bersih dari najis seperti pendapatnya Dawud adz-Dzahiri (Subulus Salam, 1/89, Nailul Authar, 1/260)

Demikian ditunjukkan dalam hadits al-Mughirah bin Syu’bah, yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

دَعْهُمَا، فَإِنِّي أَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ
“Biarkan dua khuf ini (jangan dilepas) karena aku memasukkan keduanya[5] dalam keadaan suci.” (HR. al-Bukhari no. 206 danMuslim no. 274)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini ada dalil bahwa mengusap khuf itu tidak dibolehkan kecuali bila mengenakannya dalam keadaan di atas thaharah yang sempurna dengan cara ia telah selesai dari berwudhu secara sempurna kemudian setelahnya ia mengenakan kedua khufnya.” (Syarah Shahih Muslim, 3/170)

Selain kedua kaki dalam keadaan suci, tentunya khuf yang dikenakan juga harus suci dari najis. Bila terdapat najis, maka tidak dibolehkan untuk mengusapnya melainkan harus dibersihkan terlebih dahulu. Dalil dalam hal ini adalah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama para sahabatnya dalam keadaan beliau mengenakan sendal, tiba-tiba di tengah shalat beliau melepaskan sendalnya tersebut. Selesai shalat, beliau sampaikan kepada para sahabatnya bahwa Jibril‘alaihissalam memberitahukan pada kedua sandal beliau ada kotoran. (HR. Abu Dawud no. 555. Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muqbil dalam, 1/526)

Syarat lainnya adalah mengusapnya pada waktu yang ditetapkan, yaitu sehari semalam untuk mukim dan tiga hari tiga malam untuk musafir, sebagaimana akan dijelaskan, insya Allah.

Termasuk pula dalam syarat mengusap khuf adalah seseorang dibolehkan untuk mengusap khufnya selama hadats yang menimpanya hanyalah hadats kecil, bukan hadats besar, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Shafwan bin ‘Assal yang akan datang penyebutannya.

Bagian Khuf yang Diusap

Adapun bagian yang diusap dari khuf tersebut diperselisihkan oleh ulama:
1. Sekelompok ulama mengatakan yang diusap adalah bagian atas dan bawah khuf, ini pendapatnya Ibnu ‘Umar, ‘Umar bin Abdul ‘Aziz, az-Zuhri, Malik, Ibnul Mubarak, Ishaq, serta diriwayatkan pendapat ini dari Sa’d bin Abi Waqqash, Makhul, dan asy-Syafi’i.
2. Kelompok ulama yang lain berpendapat cukup diusap bagian luar/ atas khuf tidak perlu mengusap bagian dalam/bawah khuf. Demikian pendapat Qais bin Sa’d, Anas bin Malik, al-Hasan, ‘Urwah, Ibrahim, ‘Atha, asy-Sya’bi, ats Tsauri, al-Auza’i, Ahmad, Ashhabur Ra’yi. (al-Ausath, 1/452—453)

Setelah melihat perselisihan tersebut beriktu setiap pendapat yang ada,wallahu ta‘ala a‘lam, yang rajih adalah pendapat kedua dengan dalil hadits-hadits yang ada dalam masalah ini, seperti hadits ‘Ali radhiallahu ‘anhu, ia berkata,
لَوْ كَانَ الدِّيْنُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ، وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ
“Seandainya agama itu dengan akal niscaya yang lebih pantas diusap adalah bagian bawah khuf daripada bagian atasnya.[6] Sungguh aku melihat Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap di atas kedua khufnya.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam ash-Shahihul Musnad, 2/100)

Sementara itu, cara pengusapannya dilakukan dengan kedua tangan secara bersama-sama di atas kedua kaki, yakni tangan kanan mengusap kaki kanan sedangkan tangan kiri mengusap kaki kiri pada saat yang bersamaan, sebagaimana mengusap kedua telinga. Demikian dzahir yang ditunjukkan dalam as-Sunnah dengan ucapan al-Mughirah bin Syu’bahradhiallahu ‘anhu, “Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap di atas kedua khufnya.”

Al-Mughirah radhiallahu ‘anhu tidak mengatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dari kaki kanannya.

Ada orang yang memulai pengusapan dengan kaki kanannya kemudian kaki kirinya, dan kebanyakan manusia mengusap dengan kedua tangannya di atas kaki kanan dan setelahnya mengusap dengan kedua tangannya di atas kaki kiri.

Cara seperti ini jelas tidak ada asalnya dari apa yang kami ketahui, bahkan ulama hanya mengatakan, “Mengusap dengan tangan kanan di atas kaki kanan dan tangan kiri di atas kaki kiri. Namun bagaimana pun cara pengusapan dilakukan tetaplah mencukupi, hanya saja yang lebih utama adalah apa yang telah kami sebutkan.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 4/177)

Waktu Pengusapan

Syuraih ibnu Hani rahimahullah berkata, “Aku pernah mendatangi ‘Aisyah radhiallahu ‘anha untuk bertanya kepadanya tentang mengusap di atas dua khuf. ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, ‘Hendaknya engkau mendatangi ‘Ali bin Abi Thalib, tanyakan kepadanya karena ia pernah safar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Kami pun bertanya kepada Ali radhiallahu ‘anhu. Beliau berkata,

جَعَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلاَثَةَ وَ لَيَالِيَهُنَّ لِلْمُسَافِرِ وَيَوْمًا وَلَيْلَةً لِلْمُقِيْمِ أَيَّامٍ
‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan waktu pengusapan khuf bagi seorang musafir selama tiga hari tiga malam. Sedangkan bagi seorang yang bermukim (tidak safar) selama sehari semalam.’ (HR.Muslim no. 276).”

Pendapat ini dipegangi oleh jumhur ulama dan mayoritas sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in dan orang-orang setelah mereka dari kalangan fuqaha seperti Sufyan ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq, yang mereka berdalil dengan hadits di atas. Sementara itu, kalangan ahlul ilmi lainnya menyelisihi pendapat ini. Mereka mengatakan tidak ada pembatasan waktu untuk pengusapan khuf seperti pendapat Malik, al-Laits, dan diriwayatkan pendapat ini dari ‘Umar, ‘Uqbah bin ‘Amir, al-Hasan, asy-Sya’bi, dan selain mereka. (NailulAuthar, 1/261, al-Majmu’, 1/509, Aunul Ma’bud, 1/181—182)

Namun yang rajih (kuat) dalam masalah ini dan ini yang menenangkan penulis adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama, wal ‘ilmu ’indallah. Namun awal perhitungan waktu dibolehkannya mengusap khuf ini pun diperselisihkan oleh ulama:

– Pendapat pertama mengatakan, bagi muqim (orang yang menetap/ tidak bepergian) dimulai saat memakai khuf pertama kali sampai 24 jam berikutnya, sedangkan musafir (orang yang bepergian) sampai 72 jam berikutnya (tiga hari). Ini adalah pendapat al-Hasan.

– Pendapat kedua, dimulai saat si pemakai berhadats untuk pertama kali setelah memakai khuf, demikian pendapat jumhur ulama.

– Pendapat ketiga, dimulai saat ia mengusap khufnya pada kali yang pertama dan pendapat inilah yang rajih menurut penulis sebagaimana hal ini dipegangi oleh al-Auza’i, Abu Tsaur, satu riwayat dari al-Imam Ahmad dan Dawud. Pendapat ini dipilih oleh Ibnul Mundzir dan ats-Tsauri. (al-Majmu’, 1/513)

Berdasarkan pendapat yang ketiga ini, misalkan seseorang berwudhu untuk shalat subuh dan setelahnya ia mengenakan khuf. Ia terus di atas thaharah sampai pukul 9 pagi (pada hari Senin, misalnya) kemudian ia berhadats, namun ia baru berwudhu pada pukul 12 siang dengan mengusap khufnya. Perhitungan waktu dibolehkan baginya untuk mengusap khuf dihitung mulai pukul 12 siang dan berakhir sampai pukul 12 siang hari berikutnya (hari Selasa) bila ia muqim, bila musafir berakhir pada pukul 12 siang hari keempat (hari Kamis). (asy-Syarhul Mumti’, 1/187)


Waktu Berakhirnya Pengusapan

Bila seseorang telah habis masa pengusapan khufnya, maka ia harus melepas khuf tersebut bila memang berhadats, untuk berwudhu secara sempurna dengan mencuci kembali kakinya (al-Muhalla, 1/332), dan setelahnya boleh baginya menggunakan kembali khufnya sebagaimana hukum yang awal.

Selesainya masa pengusapan khuf ini tidaklah membatalkan thaharah selama dia tidak berhadats dan masih dalam keadaan suci (thaharah yang sebelumnya belum batal) ketika masa pengusapan khufnya berakhir dan boleh baginya shalat dengan thaharahnya tersebut. Masalah ini memang juga diperselisihkan di kalangan ulama namun yang rajih (kuat) di sisi penulis apa yang telah disebutkan[7].

Ibnu Qudamah rahimahullah menukilkan ucapan al-Hasan al-Bashrirahimahullah, ia berkata, “Selesainya masa pengusapan khuf tidaklah membatalkan wudhu seseorang, hingga ia boleh shalat sampai ia berhadats. Bila ia telah berhadats, ia tidak boleh lagi mengusap khufnya namun ia harus melepaskannya (untuk berwudhu secara sempurna).” (al-Mughni, 1/178)

Ibrahim an-Nakha’i, al-Hasan al-Bashri, Ibnu Abi Laila, dan Dawud berkata, “Orang tersebut boleh shalat selama belum batal thaharahnya disebabkan satu hadats yang membatalkan wudhu.” (al-Muhalla, 1/330)

Ibnu Hazm rahimahullah menguatkan pendapat ini dengan pernyataannya, “Thaharah itu tidak akan batal kecuali dengan hadats. Sementara itu, orang yang selesai masa pengusapan khufnya ini sah thaharahnya karenanya ia tidak terhitung sebagai seorang yang berhadats sehingga ia dihukumi masih dalam thaharah. Orang yang masih dalam keadaan thaharah, boleh baginya mengerjakan shalat selama ia belum berhadats atau selama tidak adanya keterangan nash yang jelas bahwa thaharahnya itu batal walaupun ia tidak berhadats[8].

Adapun orang yang selesai masa pengusapan khufnya belumlah dikatakan berhadats dan tidak ada nash sama sekali yang menyatakan thaharahnya batal, baik pada sebagian anggota badannya maupun secara keseluruhan. Dengan demikian orang ini tetaplah dihukumi suci, ia boleh mengerjakan shalat sampai ia berhadats, sehingga ketika itu ia harus membuka khufnya (bila ia masih mengenakannya) dan berwudhu (secara sempurna dengan mencuci kaki). Setelahnya ia boleh mengenakan khufnya dan boleh mengusapnya (bila ia berhadats setelah itu), dan dimulailah waktu pengusapan yang berikutnya.” (al-Muhalla, 1/331)


Pembatal-Pembatal Pengusapan Khuf

Bila seseorang tidur, buang air besar, ataupun buang air kecil, itu tidaklah membatalkan pengusapan khufnya bahkan dibolehkan baginya untuk terus mengusap khufnya ketika berwudhu (tidak melepasnya) sampai batas waktu yang ditetapkan. Dikecualikan dalam masalah ini apabila terjadi hadats besar seperti junub karena bersetubuh atau mimpi hingga keluar mani maka hal ini membatalkan kebolehan pengusapan khuf, sehingga wajib baginya untuk melepas khufnya untuk mandi dalam rangkaian thaharah untuk membersihkan hadats besarnya tersebut. Hal ini dinyatakan oleh hadits Shafwan bin ‘Assal radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا إِذَا كُنَّا سَفَرًا أَلاَّ نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إِلاَّ مِنْ جَنَابَةٍ وَلَكِنْ مِنْغَائِطٍ وَنَوْمٍ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami, bila kami sedang safar agar tidak melepaskan khuf-khuf kami selama tiga hari tiga malam kecuali bila ditimpa janabah. Akan tetapi bila hanya buang air besar, kencing, dan tidur (tidak perlu melepaskannya).” (HR. at-Tirmidzi no. 96. Dinyatakan hasan oleh asy- Syaikh Muqbil dalam al-Jami’us Shahih, 1/538)


Hukum Orang yang Membuka Khufnya Setelah Mengusapnya


Ada tiga pendapat ulama dalam masalah ini:
1. Membatalkan wudhu dan wajib mengulanginya seperti pendapat Abu Hanifah.
2. Kedua kaki dicuci seperti pendapat al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah.
3. Wudhu tetap sah dan tidak ada ketentuan apa-apa bagi yang melakukannya.

Pendapat ini diriwayatkan dari Ibrahim an-Nakha’i, pendapat al-Hasan al-Bashri, ‘Atha, Abul Aliyah, Qatadah, Sulaiman bin Harb, al-Bukhari, Dawud adz-Dzahiri, Ibnul Mundzir, dan Ibnu Hazm rahimahumullah ( al- Majmu’, 1/558—559, al-Muhalla, 1/338—341).

Pendapat ini pula yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah rahimahullah, demikian pula asy-Syaikh al-Albani rahimahullah (Tamamul Minnah, hlm. 114—115), karena tidak adanya dalil yang menunjukkan batalnya wudhu orang yang melepas khufnya tersebut. Ibnu Taimiyyah rahimahullahberkata, “Orang yang mengusap khuf dan imamah tidaklah batal wudhunya dengan melepaskan khuf dan imamahnya. Tidak pula batal wudhu tersebut dengan selesainya waktu pengusapan sehingga tidak wajib baginya untuk mengusap kepalanya dan mencuci kedua kakinya setelah itu.” (al-Ikhtiyarat dalam al-Fatawa al-Kubra, 5/306)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Apabila seseorang melepas khuf atau kaos kakinya setelah ia mengusapnya, thaharahnya tidaklah batal menurut pendapat yang sahih. Akan tetapi yang batal adalah pengusapannya bukan thaharahnya. Apabila ia kembali mengenakan khufnya sementara wudhunya telah batal, maka ia harus melepas khufnya tersebut dan berwudhu dengan mencuci kedua kakinya.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail, 4/179)


Faedah

Ditanyakan kepada asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, “Apabila seseorang melepas kaos kakinya (dan tentunya khuf masuk dalam permasalahan ini, -pen.) dalam keadaan ia masih memiliki wudhu kemudian ia mengenakannya kembali sebelum batal wudhunya, apakah boleh baginya mengusap kaos kaki tersebut?”

Beliau rahimahullah berkata, “Apabila seseorang melepas kaos kakinya kemudian ia mengenakan kembali dalam keadaan masih memiliki wudhu, sedangkan wudhu itu adalah wudhu yang pertama kali—maksudnya belum batal wudhunya setelah ia mengenakan kaos kaki tersebut—, maka tidak mengapa baginya untuk mengenakannya kembali dan mengusapnya jika ia berwudhu (lagi).

Namun, apabila wudhu itu adalah wudhu pengusapan yang dengannya ia mengusap kaos kakinya, sedangkan setelah ia melepaskannya kemudian mengenakannya kembali, maka tidak diperkenankan lagi baginya untuk mengusapnya. Karena mengenakan kaos kaki itu harus didahului dengan thaharah dengan memakai air. Sementara, ini adalah thaharah dengan mengusap, demikian yang saya ketahui dari ucapan ahlul ilmi.

Akan tetapi, bila ada orang yang berkata bahwa ia mengusap kaos kakinya yang ia kenakan kembali setelah melepaskannya dalam keadaan thaharah, walaupun itu adalah thaharah dengan pengusapan, maka hal itu boleh baginya selama waktu pengusapannya belum habis. Ini merupakan pendapat yang kuat akan tetapi saya tidak mengetahui ada seorang pun dari kalangan ahlul ilmi yang berkata demikian sehingga hal ini mencegah saya untuk berpendapat demikian.

Bila memang ada dari kalangan ahlul ilmi yang berkata demikian maka pendapat itu yang benar menurut saya, karena thaharah pengusapan adalah thaharah yang sempurna. Sepantasnya dikatakan apabila ia dibolehkan mengusap dalam keadaan ia mengenakannya di atas thaharah pencucian (yang awal), maka tentunya boleh ia mengusap dalam keadaan ia mengenakannya di atas thaharah pengusapan. Namun saya tidak mendapati seorang pun dari ahlul ilmi yang berpandangan demikian.” (Buhuts wa Fatawa fil Mashi ‘alal Khuffain, soal ke-11)


Mana yang Lebih Utama, Mencuci Kaki atau Mengusap Khuf ?

Dari sisi hukum, telah jelas bagi kita akan kokohnya sunnah mengusap khuf ini. Mungkin yang jadi permasalahan: manakah yang lebih utama ketika seseorang berwudhu, apakah mencuci kaki atau mengusap khuf?

Dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Di antara sahabat ada yang berpendapat mencuci kaki lebih utama karena ia merupakan asal dalam berwudhu. Mereka yang berpendapat seperti ini adalah Umar ibnul Khaththab, Ibnu ‘Umar, dan Abu Ayyub al-Anshariradhiallahu ‘anhum.

Mengusap khuf lebih utama, pendapat ini dipegangi oleh sekelompok tabi‘in seperti asy-Sya’bi, al-Hakam, Hammad, satu riwayat dari Ahmad (ini yang paling sahih darinya), dan Ishaq rahimahumullah. (al-Ausath, 1/439—440, al-Mughni, 1/176)

Pendapat yang lain dari kalangan ahlul ilmi adalah antara mencuci kaki dan mengusap khuf sama keutamaannya. Pendapat ini yang dipilih oleh Ibnul Mundzir dan riwayat lain dari al-Imam Ahmad. (Syarah Shahih Muslim, 3/164)

Adapun pendapat keempat yang merupakan pendapat yang pertengahan, yaitu yang lebih utama adalah melihat keadaan. Bila sedang mengenakan khuf maka lebih utama mengusapnya, namun bila sedang tidak mengenakan khuf, lebih utama mencuci kaki. Demikian pendapat ini dipegangi oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah dan murid beliau Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah sebagaimana dalam Zadul Ma’ad, 1/50.

Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan, “Yang lebih utama pada diri setiap orang adalah sesuai dengan keadaannya. Bila ia mengenakan khuf maka cukup baginya untuk mengusap di atas khufnya dan tidak perlu ia melepaskannya dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Adapun yang lain, yang kakinya telanjang maka yang utama ia mencuci keduanya dan tidak perlu ia bersengaja mengenakan khuf ketika itu untuk diusapnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencuci kedua kakinya bila dalam keadaan telanjang (tidak mengenakan khuf) dan beliau mengusap khuf bila bertepatan saat itu beliau sedang mengenakan khuf.” (al-Ikhtiyarat dalam al-Fatawa al-Kubra, 5/305)

Inilah pendapat yang rajih yang dipegangi oleh penulis.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab wal ‘ilmu ‘indallah.



Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Muslim al-Atsari


[1] Semacam sepatu dan kaos kaki (-pen.), yaitu yang menutupi dua mata kaki. Adapun jika ukurannya di bawah dua mata kaki maka tidak dikategorikan sebagai khuf, berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, Muttafaqun ‘Alaih, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang apa yang boleh dikenakan oleh seorang yang muhrim (sedang ihram dalam ibadah haji) maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab di antaranya,

وَلاَ الْخُفَّيْنِ إِلاَّ مَنْ لاَ يَجِدُ النَّعْلَيْنِ فَلْيَقْطَعْهُمَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ

“Janganlah dia memakai khuf (sepatu) kecuali orang yang tidak menemukan sendal, maka hendaklah dia memotong khuf itu sampai di bawah mata kaki.”

Yaitu supaya bukan lagi sebagai khuf. (Lihat Majmu’ Fatawa, 21/190, dan 21/192)

[2] Namun bacaan dengan cara men-jarr-kan di sini adalah bacaan yang lemah sebagaimana telah kami singgung dalam pembahasan yang telah lalu tentang kedua kaki dicuci bukan diusap, Asy-Syariah no. 06/Muharram 1425 H.

[3] Yaitu kedua kaki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana diterangkan pada catatan kaki no. 5.

[4] Ulama mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta Hudzaifah radhiallahu ‘anhu untuk mendekat ketika beliau sedang kencing dengan tujuan menutupi beliau dari pandangan manusia dan selainnya. (Syarah Shahih Muslim, 3/167) 233

[5] Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Perkataan ‘Aku memasukkan keduanya,’ yakni kedua kaki dalam keadaan suci, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian lafadz-lafadz hadits ini.” (asy-Syarhul Mumti’, 1/189)

Seperti dalam riwayat Abu Dawud (no. 130) dan selainnya disebutkan dengan lafadz:

دَعِ الُخُفَّيْنِ، فَإِنِّي أَدْخَلْتُ الْقَدَمَيْنِ الْخُفَّيْنِ وَهُمَا طَاهِرَتَانِ

“Biarkan dua khuf ini, karena aku memasukkan kedua kakiku ke dalam khuf ini dalam keadaan kedua kakiku suci.”

[6] Agama ini bukan diukur dengan akal maka yang diusap bukan bagian yang biasanya bersentuhan dengan kotoran, atau menginjak kotoran namun justru bagian atasnya. (‘Aunul Ma’bud, 1/192)

Namun bila kita mau merenungkan maka kita dapatkan mengusap di atas khuf lebih pantas dan justru masuk akal. Hal ini karena yang dimaukan dengan mengusap khuf di sini bukan untuk membersihkan khuf dan menyucikannya dari kotoran, namun yang dimaukan adalah ta’abbud (menunaikan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala). Justru bila yang diusap bagian bawah khuf maka akan mengotori tangan kita dan meratakan kotoran yang mungkin ada di bawah khuf itu ke seluruh bagiannya. (asy-Syarhul Mumti’, 1/313)

[7] Perselisihan tersebut dapat kita uraikan sebagai berikut:

Pendapat pertama: Wudhunya tidak batal dan tidak ada keharusan baginya untuk melakukan apapun, ia boleh shalat dengan wudhu tersebut selama ia belum berhadats. Demikian dihikayatkan pendapat ini oleh Ibnul Mundzir (dan pendapat ini yang beliau pilih) dari Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, dan Sulaiman bin Harb. Al-Imam An-Nawawirahimahullah berkata: “Ini adalah pendapat yang terpilih dan paling kuat.” Pendapat ini pula yang dipilih oleh Ibnu Hazm dan beliau menyatakan bahwasanya tidak boleh ada pendapat lain selain ini. Dan ini pula yang dipegangi penulis sebagaimana di atas.

Pendapat kedua: Wajib baginya untuk mencuci kaki saja, demikian pendapat ‘Atha, ‘Alqamah, Al-Aswad. Dan ini merupakan madzhab Abu Hanifah dan murid-muridnya, Ats-Tsauri, Abu Tsaur, Al-Muzani, dan satu riwayat dari Ahmad.

Pendapat ketiga: Wajib baginya berwudhu, demikian pendapatnya Mak-hul, Az-Zuhri, Al-Auza’i, Al-Hasan ibnu Shalih dan Ishaq dan ini yang paling shahih dari dua riwayat dari Al-Imam Ahmad.

Pendapat keempat: Wajib baginya berwudhu apabila panjang waktunya antara ia melepas khuf dengan mencuci kedua kaki. Bila waktu yang ada sedikit, maka cukup baginya mencuci kedua kaki. Demikian pendapat Al-Laits dan Malik. (Buhuts wal Fatawa fil Mas-hi ’alal Khuffain, pembahasan yang kelima, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah)

[8] Seperti pembatal-pembatal wudhu selain hadats besar dan hadats kecil.

Sumber : Asy Syariah Edisi 009, Seputar Hukum Islam dan Asy Syariah Edisi 011, Seputar Hukum Islam

14 November 2011
http://asysyariah.com/mengusap-khuf/
http://asysyariah.com/mengusap-khuf-2/

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Posting Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Setiap komentar akan dimoderasi