
BAB SEDERHANA (TIDAK BERLEBIH-LEBIHAN) DALAM IBADAH
Larangan Beribadah dalam Keadaan Mengantuk serta Sederhana dan Tidak Berlebih-lebihan dalam Mengerjakan Ibadah
📅 sabtu, 18 jumadil awwal 1437H (27/02/2016)▶ hal 227-hadits 146 sd 149 (larangan beribadah dalam keadaan ngantuk, sederhana dan tidak berlebihan dalam ibadah)
Link download audio : https://drive.google.com/uc?id=1fE4hlcHkGDZAkFOozycWlv_BMPi8si74&export=download
PENJELASAN RINGKAS
HADITS ke 146
Dari Anas rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata: “Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam memasuki masjid lalu menemukan tali yang terpasang memanjang antara dua tiang, beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya: “Tali apakah ini?” Para shahabat menjawab, “Zainab yang memasangnya, apabila dia merasa malas (berdiri ketika sholat malam) diapun bergantung pada tali ini.” Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Lepaskan, sholatlah kalian ketika dalam keadaan bugar, sedangkan jika merasa malas/mengantuk maka tidurlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Faidah Hadits-146 :
[1]. 7 orang yang akan mendapat naungan dan diantaranya adalah seseorang yang hatinya terikat dengan masjid.
[2]. Nabi menasihatkan agar sholat (sunnah) ketika sedang semangat dan istirahat ketika sedang malas, karena dikhawatirkan akan menzhalimidirinya dan tambah capek apabila memaksakan diri ketika sedang capek.
[3]. Di antara sifat yang berlebih-lebihan ialah sifat yang dilakukan sebagian pelajar ketika menelaah kembali (muroja’ah) pelajarannya dalam keadaan sedang mengantuk sehingga membuat capek dirinya. Selayaknya apabila dalam keadaan mengantuk pada saat muroja’ah untuk menutup bukunya dan istirahat (tidur).
[4]. Keadaan ini berlaku umum pada setiap waktu. Kalau tidak bisa menahan ngantuk maka istirahatlah, walaupun itu sesudah waktu sholat shubuh. Para ulama memang membenci tidur sesudah sholat shubuh ranpa sebab. Demikian pula setelah sholat ashar dan maghrib.
[5]. Setiap perkara jadikanlah mudah kecuali yang telah Alloh tentukan dan wajibkan. Adapun perkara-perkara sunnah itu luas, maka janganlah membuat capek pada suatu perkara padahal ada kemudahan.
HADITS ke-147
Dari Aisyah rodhiyallohu ‘anha, ia berkata: Sesunggunya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika salah seorang diantara kalian mengantuk ketika sholat, hendaklah ia tidur (sesudah salam tidak melanjutkan sholat selanjutnya) sehingga hilang rasa kantuknya. Karena apabila salah seorang diantara kalian meneruskan sholat dalam keadaan mengantuk, maka ia tidak akan tahu, bileh jadi ia bermaksud meminta maghfirah tetapi ia malah meminta kecelakaan atas dirinya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Faidah Hadits-147:
[1]. Beda antara mengantuk dan tidur. Mengantuk masih merasakan apa yang ada di sekelilingnya, masih bisa menjalankan rukun-rukun sholat meski tidak jelas. Sedangkan tidur sudah tidak ingat apa-apa lagi sehingga tidur membatalkan wudhu. Sekedar mengantuk itu tidak membatalkan wudhu.
[2]. Dikhawatirkan ketika sholat dalam keadaan mengantuk upacannya menjadi tidak jelas. Boleh jadi niat awalnya memohon ampunan tetapi sebaliknya malah mencela dirinya.
[3]. Di antara hikmahnya, setiap diri seseorang itu mempunyai hak. Bila memaksakan diri beribadah padahal tidak mampu dikhawatirkan akan menzhalimi dirinya.
HADITS ke-148:
Dari Abu ‘Abdillah Jabir bin Samurahrodhiyallohu ‘anhu, ia berkata: “Dahulu saya bermakmum kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam sholat-sholatnya, saya dapati sholat dan khutbah beliau sederhana (tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek).” (HR.Muslim)
Faidah Hadits-148:
Tidak selayaknya bagi seseorang memberat-beratkan dirinya. Hendaknya ia lakukan sesuai dengan kemampuannya.
Wallohu A’lam bi Showab.
Faidah dari http://www.fawaidkajianbandung.web.id/kajian-kitab-riyadhus-shalihin-sholat-dalam-keadaan-mengantuk/
Tidak ada tanggapan
Posting Komentar
Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Setiap komentar akan dimoderasi