Ketentuan Berbuka Puasa

Silsilah Fikih Puasa Lengkap (Bahagian 24)
Bab 9: Ketentuan Berbuka Puasa & Sahur
Al-Imam as-Sa’di berkata, “Rasulullah bersabda, “Kaum muslimin (yang berpuasa) akan senantiasa dalam kebaikkan selama mereka bersegera dalam berbuka puasa.” (Muttafaq ‘alaih). Baginda juga bersabda, “Hendaklah kalian makan sahur, kerana pada santapan sahur terdapat berkah.” (Muttafaq ‘alaih). Baginda bersabda pula, “Jika seseorang di antara kalian berbuka puasa, hendaknya ia berbuka dengan kurma kering. Jika ia tidak mendapati kurma kering, hendaknya ia berbuka dengan minum air, kerana air itu suci lagi menyucikan.” (Hadits riwayat lima imam)”
----------------------

Ketentuan Berbuka Puasa

“Kaum muslimin (yang berpuasa) senantiasa dalam kebaikkan selama mereka bersegera dalam berbuka puasa.” (Muttafaq ‘alaih)
1: Sunnah berbuka puasa ketika telah masuk waktu berbuka.
“Jika malam hari telah datang dari arah sini (timur), dan siang hari telah pergi dari arah sini (barat), serta telah terbenam matahari, orang yang berpuasa pun berbuka.” (Muttafaq ‘alaih)
2: Kaum muslimin yang berpuasa senantiasa dalam kebaikkan selama mereka bersegera dalam berbuka puasa (ketika tiba waktunya)
Yang dimaksud dengan kebaikkan di sini adalah kebaikkan dalam hal agama, berupa mengikuti sunnah Nabi serta memperoleh kelapangan dan ketenangan hati.
Perbuatan menunda berbuka puasa hingga munculnya bintang-bintang di langit sebagaimana yang dilakukan oleh kaum sesat Syiah Rafidhah, bukanlah kebaikkan. Menunda berbuka puasa adalah kebiasaan kaum Yahudi dan Nasrani.
“Agama ini senantiasa berjaya selama kaum muslimin bersegera dalam berbuka puasa, kerana kaum Yahudi dan Nasrani biasa menundanya.” (HR Abu Dawud)
3: Terlarangnya Puasa Wishal
Puasa wishal adalah menyambung puasa dalam dua hari atau lebih tanpa berbuka.
“Nabi telah melarang untuk melakukan puasa wishal. Baginda pernah ditanya, “Sungguh engkau sendiri melakukan puasa wishal, wahai Rasulullah?” Baginda menjawab, “Keadaanku tidak seperti keadaan kalian, sesungguhnya aku diberi makan dan minum oleh Rabbku.”
Makna hadits ini menurut yang dinyatakan oleh Ibnul Qoyyim dan al-Utsaimin, yang dimaksud makan dan minum yang diberikan Allah kepada NabiNya adalah kelapangan hati yang Allah berikan dalam kalbu baginda untuk senantiasa berzikir kepadaNya (mengingatNya) daripada mengingat perkara lain. Hal ini adalah kekhususan yang diberikan kepada Nabi, iaitu baginda terkadang melakukan puasa wishal. Adapun umatnya dilarang melakukannya.
Akan tetapi terdapat izin dari Nabi untuk melakukan wishal hanya sampai waktu sahur.
“Janganlah kalian melakukan puasa wishal. Maka dari itu, siapa pun di antara kalian jika ingin meneruskan puasanya (tidak berbuka), lakukanlah hingga waktu sahur.” (HR Bukhari)

Adab-Adab Berbuka Puasa

“Jika salah seorang di antara kalian berbuka puasa, hendaknya ia berbuka dengan kurma kering. Jika ia tidak mendapati kurma kering, hendaknya ia berbuka dengan minum air, kerana air itu suci lagi menyucikan.” (HR Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu Majah. Al-Albani mendhaifkannya di dalam Irwa’ al-Ghalil, Dha’if at-Tirmidzi dan Dha’if Ibni Majah)
Riwayat yang benar dari Rasulullah dalam masalah ini hanyalah amalan baginda, iaitu hadits Anas bin Malik:
“Rasulullah biasa berbuka puasa dengan makan beberapa buah kurma segar sebelum menunaikan solat Maghrib. Jika tidak ada kurma segar, baginda berbuka dengan memakan beberapa buah kurma kering. Jika tidak ada kurma kering, baginda berbuka dengan meneguk beberapa teguk air.” (HR Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, al-Baihaqi. Al-Baihaqi berkata hadits ini berderajat hasan gharib. Dan al-Albani serta al-Wadi’i berkata hadits ini hasan)
❗Al-Albani berkata, “Kesimpulannya, riwayat yang benar dari Rasulullah dalam masalah ini hanyalah hadits Anas, yang berupa amalan baginda. Adapun hadits Anas dan hadits Salman bin ‘Amir yang berupa ucapan dan perintah baginda, menurut kami, kedua hadits itu tidak benar riwayatnya dari baginda. Wallahu’alam.”
Bacaan-Bacaan Tertentu Ketika Hendak Berbuka Puasa
✅1: 
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ
“Rasulullah jika telah berbuka puasa biasa mengucapkan, ‘Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat, dan telah tetap pahala berpuasa, jika Allah menghendaki’.” (HR Abu Dawud, an-Nasa’i dan ad-Daraquthni. Dinyatakan hasan sanadnya oleh ad-Daraquthni, Ibnu Hajar dan al-Albani)
X 2: 
اللَّھُمَّ لَكَ صُمْنَا وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْنَا, اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Jika telah berbuka puasa, Nabi biasa membaca, ‘Wahai Allah, keranaMu kami berpuasa dan dengan rezeki dariMu kami berbuka puasa. Wahai Allah, terimalah amal ini dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’.” (HR Abu Dawud, al-Baihaqi, Ibnu Abi Syaibah, derajatnya dihukumi DHA’IF oleh al-Albani dalam al-Irwa’)
❗Al-Imam Ibnu Utsaimin berkata dalam asy-Syarh al-Mumti, “Sanad-sanad hadits ini lemah, namun tidak mengapa dibaca (dengan keyakinan ianya bukanlah sunnah Nabi).”
Disunnahkan Memberi Makanan & Minuman Kepada Orang Yang Berpuasa
“Barang siapa memberi makan untuk berbuka puasa kepada orang yang berpuasa, ia mendapatkan pahala senilai dengan pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa itu.” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Disahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani)

(Faedah dari Kitab Manhajus Salikin wa Taudhih al-Fiqhi fid-Din -Kitab ash-Shiyam-, karya Al-Imam Abdurrahman as-Sa’di, disyarah al-Ustadz Muhammad as-Sarbini, diterbitkan Oase Media)
ll مجموعة طريق السلف ll
www.thoriqussalaf.com
http://telegram.me/thoriqussalaf
23/05/2017 & 26/05/2017

Postingan terkait:

Tidak ada tanggapan

Posting Komentar

Ketentuan mengisi komentar
- Pilihlah "BERI KOMENTAR SEBAGAI:" dengan isian "ANONYMOUS/ANONIM". Identitas bisa dicantumkan dalam isian komentar berupa NAMA dan DAERAH ASAL
- Setiap komentar akan dimoderasi